Jumat, 19 April 2019

COHTOH BIOGRAFI : BIOGRAFI BILL GATES


BIOGRAFI BILL GATES

Bill Gates merupakan pendiri Microsoft, sebuah perusahaan perangkat lunak terkemuka. Bill Gates duduk sebagai orang terkaya yang menempati peringkat pertama pada tahun 1995—2009 serta tidak termasuk 2008 ketika ia turun ke peringkat tiga. Ia bernama lengkap William Henry Gates III atau lebih dikenal dengan nama Bill Gates dilahirkan pada 28 Oktober 1955, di Seattle, Washington. Ia adalah adalah anak kedua dari tiga bersaudara, kakaknya yang bernama Kristi dan adiknya adalah Libby Ayahnya William Henry Gates adalah seorang pengacara perusahaan yang punya banyak relasi di kota. Sedangkan ibunya Mary Maxwell seorang pegawai First Interstate Bank, Pacific Northwest Bell dan anggota Tingkat Nasional United Way. Bill Gates adalah seorang keturunan bangsa Inggris, Jerman, dan Irlandia. Keluarganya tergolong dalam masyarakat menengah atas. Dalam kehidupan peribadinya, Gates menikah dengan Melinda French pada 1 Januari 1994. Mereka mempunyai tiga orang anak, yaitu Jennifer Katherine Gates (1996), Rory John Gates (1999), dan Phoebe Adele gates (2002).
Bill Gates seorang anak yang cerdas, tetapi dia terlalu penuh semangat. Sifat- sifat tersebut diwarisinya dari sifat-sifat keluarganya yang ambisius, cerdas, dan penuh semangat. Ia dengan mudah melewati masa sekolah dasar dengan nilai yang sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Matematika. Ketika dia berumur 13 tahun, orang tuanya memutuskan untuk membuat perubahan pada dirinya dan mengirimnya ke Lakeside School, sebuah sekolah dasar yang bergengsi khusus bagi anak laki-laki. Sejak sekolah di sana, pada tahun 1968 ia mulai dikenalkan dengan dunia komputer. Dia sangat cepat sekali menguasai BASIC, sebuah bahasa pemograman komputer. Bill Gates juga sering sekali menghabiskan waktunya dengan komputer selama berjam-jam menuliskan program, main game, dan biasa mempelajari banyak hal mengenai komputer.
Pendidikan Bill Gates dimulai di Lakeside School pada tahun 1968. Gates lulus dari Lakeside School pada tahun 1973 dengan mendapatkan nilai 1590 dari total nilai 1600. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Harvard College. Gates tidak sugguh-sungguh belajar di Harvard, ia banyak menghabiskan waktunya menggunakan komputer sekolah. Kemudian dia memberanikan diri untuk keluar dari Harvard untuk membangun sebuah perusahan.
Setelah keluar dari Havard, Bill Gates mendirikan microsoft ini di tahun 1975 bersama temannya, yakni Paul Allen. Melalui usaha kerasnya, perusahaan yang ia dirikan yang bernama Microsoft Corporation menjadi sukses dan Bill Gates melambung menjadi seorang jutawan. Ia selalu berpikir bahwasannya teknologi akan terus berkembang pesat. Microsoft merupakan sebuah versi dari bahasa pemograman BASIC dan juga Altar 8800 yang disebut sebagai komputer pribadi yang pertama di dunia. Pada tahun 1990, ia sukses meriliskan sistem operasi, tetapi Bill Gates juga mendapatkan reputasi yang tidak baik dalam karirnya tersebut. Ia sering sekali melakukan kesalahan dalam bisnis perangkat lunak tersebut.
Di tahun 1990 ia mendapatkan tuntutan dari Departemen Keadilan Amerika Serikat dengan dakwaan bahwasannya ia telah melakukan monopoli terhadap perusahaan kecil. Pada akhirnya di tahun 2000-an, Bill Gates memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya dan ia kembali ke profesi lamanya, yakni sebagai Kepala Peneliti dan Pengembangan Perangkat Lunak di perusahaan yang ia dirikan sendiri, yakni Microsoft Corp.
Pada tahun 2000 Bill Gates dan istrinya telah mendirikan Bill and Melinda Gates Foundation, yang merupakan sebuah yayasan sosial yang memperhatikan pederita AIDS, beasiswa bagi universitas-universitas, dan kepedulian pada dunia ketiga. Para kritikus mengatakan ini merupakan pembuktian terhadap kemarahan banyak orang tentang praktik monopoli, adikuasa perusahaannya, dan beberapa kejahatan yang telah ia lakukan. Akan tetapi beberapa orang yang dekat dengan Bill Gates berkata bahwa ia memang telah lama berencana untuk menyumbangkan sebagian besar hartanya. Pada tahun 1999 koran Washington Post memberitakan bahwa “Gates telah menyatakan bahwa dia memutuskan untuk menyumbangkan $5 milyar kepada organisasi mereka.
Dengan perjuangan dan tekad yang keras kini Bill Gates telah menggapai cita-citanya. Untuk mencapai kesuksesan memang diperlukan pengorbanan dan perjuangan yang berat. Namun, usaha keras dan sikap pantang menyerah Bill Gates telah membuahkan hasil yang dapat ia nikmati saat ini. Berturut turut dari tahun ke tahun hingga saat ini Bill Gates bertengger di posisi atas sebagai salah satu orang terkaya di dunia.
Bill Gates jugu sering mendapatkan penghargaan-penghargaan karena usaha dan kerja kerasnya selama ini, seperti majalah Time menamai Gates sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh pada abad ke-20. Ia juga mendapat penghormatan sebagai Distinguished Fellow ke-20 di British Computer Society. Pada November 2006, ia dan istrinya diberi penghargaan Order of the Aztec Eagle atas aktivitas filantropi mereka di seluruh dunia dalam bidang kesehatan dan pendidikan, terutama di Meksiko, dan tepatnya pada program Un paĆ­s de lectores. Pada Oktober 2009, Gate mendapatkan penghargaan  Bower Award for Business Leadership dari The Franklin Institute atas pencapaiannya dalam bisnis dan aktivitas filantropinya. Pada tahun 2010, ia memperoleh Silver Buffalo Award dari Boy Scouts of America, penghargaan tertinggi untuk orang dewasa, atas jasanya kepada para pemuda. Selain penghargaan-penghargaan tersebut masih banyak juga penghargaan yang lainnya.
Demikian biografi Bill Gates yang dapat dirangkum secara singkat. Di balik kesuksesan Microsoft hingga sebesar ini ada pengorbanan dan tenaga yang dicurahkan sang pendirinya, yaitu Bill Gates. Dengan membaca biografi ini kita dapat mengambil contoh semangat dan  kedermawanan hati seorang Bill Gates. Dalam biografi ini pula kita dapat mengambil pelajaran bahwa bila kita mempunyai keinginan terhadap sesuatu, maka kita perlu mengembangkan keinginan tersebut.
Sumber :


CONTOH BIOGRAFI : BIOGRAFI K.H. ABDURRAHMAN WAHID


BIOGRAFI K.H. ABDURRAHMAN WAHID


Abdurrahman Wahid, atau yang lebih popular dengan sebutan Gus Dur, merupakan tokoh panutan yang sangat dihormati oleh banyak kalangan karena pengabdiannya kepada masyarakat, demokrasi, dan Islam toleran. Selain itu, beliau merupakan Presiden Indonesia ke-4. Beliau dilahirkan di Denanyar, Jombang, Jawa Timur pada 4 Agustus 1940. Beliau adalah putra pertama dari enam bersaudara. Ayahnya bernama K.H. Wahid Hasyim adalah menteri agama pada tahun 1949-1952. Sedangkan Ibunya bernama Hj. Sholehah adalah putri pendiri Pesantren Denanyar Jombang, K.H. Bisri Syamsuri. Istrinya bernama Sinta Nuriyah. Hasil perkawinannya dengan Sinta Nuriyah, mereka dikarunia empat orang anak, yaitu Alissa Qotrunnada Munawaroh, Zannuba Arifah Chafsoh, Annita Hayatunnufus, dan Nayah Wulandari.
Sejak masa kanak-kanak, Gus Dur mempunyai kegemaran membaca dan rajin memanfaatkan perpustakaan pribadi ayahnya. Pada usia belasan tahun beliau telah akrab dengan berbagai majalah, surat kabar, novel dan buku-buku. Di samping membaca, beliau juga hobi menulis, bermain bola, catur dan musik. Hasil dari hobi menulisnya, beliau berhasil menciptakan banyak buku, seperti Gus Dur Bertutur, 90 Menit Bersama Gus Dur, Tuhan Tidak Perlu Dibela, Islamku Islam Anda Islam Kita, dan lain-lain.
Pendidikan dasar Gus Dur didapatkan Jakarta, yaitu di SD KRIS dan akhirnya pindah ke SD Matraman Perwari. Pada tahun 1953, Gus Dur kecil lulus dari pendidikan dasarnya dan melanjutkan pendidikan menengah di Yogyakarta. Beliau masuk ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (1953-1957). Beliau juga menjadi santri di Pondok Pesantren al-Munawwir Krapyak Yogyakarta dengan menetap di rumah tokoh NU KH. Ali Ma’sum. Pada tahun 1957, beliau menyelesaikan jenjang SMP lalu pindah ke Magelang untuk belajar di pesantren Tegalrejo. Beliau mengembangkan reputasi sebagai murid berbakat dan menyelesaikan pendidikan pesantren dalam waktu dua tahun yang seharusnya ditempuh selama empat tahun.
Pada 1959, Gus Dur pindah ke pesantren Tambakberas di Jombang dan mendapat pekerjaan pertama sebagai guru sekaligus Kepala Madrasah. Pada 1963, Gus Dur mendapat beasiswa dari Deperteman Agama untuk melanjutkan pendidikannya ke Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir. Namun Beliau tidak menyelesaikan pendidikan di sana  dikarenakan kekritisannya tentang sistem pendidikan di Mesir. Meski demikian, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Kemudian beliau belajar di Universitas Baghdad. Meskipun awalnya lalai, namun pada akhirnya Gus Dur dapat menyelesaikan pendidikan Di Universitas Baghdad pada tahun 1970. Selanjutnya Gus Dur pergi meneruskan pendidikannya di Universitas Leiden, Belanda lalu ke Jerman, dan Prancis.
Pada tahun 1971,Gus Dur kembali ke Jakarta dan bergabung dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), organisasi yang terdiri dari kaum intelektual muslim progresif dan soaial demokrat. Pada Musyawarah Nasional tahun 1983, Gus Dur didaulat sebagai Ketua Umum NU, selama masa jabatan pertamanya Gus Dur fokus dalam mereformasi sistem pendidikan pesantren dan berhasil meningkatkan kualitas pesantren. Pada 20 Oktober 1999, MPR melaksaankan sidang dan memilih presiden paru, kemudian beliau terpilih menjadi Presiden Indonesia Ke- 4.
Gus Dur wafat pada hari Rabu,  30 Desember 2009, di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta,  pukul 18.45 WIB pada usia 69 tahun. Beliau dimakamkan secara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Presiden RI di kompleks Pondok Pesantren Tebuireng pada tanggal 31 Desember 2009. Pondok pesantren tempat Gus Dur dimakamkan menjadi maskot Kabupaten Jombang sebagai tempat ziarah yang memiliki daya tarik tidak tertandingi. Bahkan orang-orang yang selama ini berseberangan politik dengan beliau akan cenderung mengagungkan beliau bukan karena prestasi politiknya melainkan karena berkahnya yang diyakini mampu memberikan perlindungan dan rasa aman.
Selain itu, banyak juga Gus Dur juga banyak mendapatkan penghargaan semasa hidup. Pada 1993, beliau menerima Ramon Magsaysay Award, penghargaan cukup prestisius untuk kategori kepemimpinan sosial. Kemudian beliau ditahbiskan sebagai “Bapak Tionghoa” oleh beberapa tokoh Tionghoa Semarang di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, pada 10 Maret 2004. Pada 11 Agustus 2006, Gadis Arivia dan Gus Dur juga mendapatkan Tasrif Award-AJI sebagai Pejuang Kebebasan Pers 2006. Beliau juga mendapat penghargaan dari Simon Wiethemthal Center, sebuah yayasan yang bergerak di bidang penegakan HAM karena dianggap sebagai salah satu tokoh yang peduli persoalan HAM. Gus Dur memperoleh penghargaan dari Mebal Valor yang berkantor di Los Angeles karena beliau dinilai memiliki keberanian membela kaum minoritas serta masih banyak sekali penghargaan yang beliau dapatkan.
Berdasarkan informasi-informasi di atas, sosok yang biasa kita kenal dengan sebutan Gus Dur ternyata memiliki perjalanan hidup yang menarik untuk simak. Selain itu, beliau memiliki banyak keunggulan yang dimiliki, seperti menulis banyak buku, mendapatkan banyak penghargaan, dan mampu sekolah sampai luar negeri. Oleh karena itu, kita sebagai penerus bangsa ini dapat mengambil hal positif dari kehidupan beliau serta dapat meneladaninya. Sehingga kita dapat meneruskan perjuangan beliau untuk memajukan bangsa ini.

Sumber :

Senin, 18 Maret 2019

CONTOH TEKS RESENSI : Resensi Novel 5 Cm



Resensi Novel 5 Cm

Judul Buku                              : 5 cm
Pengarang                               : Donny Dhirgantoro
Penerbit                                   : PT. Grasindo
Editor                                      : A. Ariobimo Nusantara
Desain Sampul & Ilustrasi      : Bayu Abdinegoro
Tahun Terbit                            : 2007
Tempat Terbit                          : Jakarta
Tebal Buku                              : 381 halaman
Ukuran Buku                          : 21cm x 14cm
ISBN                                       : 9797591514
Harga Buku                             : Rp 60.000,-
         
       Donny Dhirgantoro adalah orang biasa yang terus berjuang untuk impiannya menjadi seorang penulis. Pada tahun 2008 memutuskan untuk meninggalkan pekerjaannya di sebuah Bank Swasta dan menjadi penulis, pilihan pekerjaan yang masih harus dia perjuangkan hingga sekarang. Laki-laki hitam berbadan besar dan berwajah marini ini sebenarnya tidak ada tampang, bakat atau berasal dari keturunan penulis. Kelebihan dan kekurangan yang dia syukuri adalah dia suka terlalu sensitive. Profesinya sebagai penulis telah membawanya keliling kampus, toko buku dan acara-acara buku, hampir di seluruh Indonesia. Dalam novel “5 cm” ini adalah cerita pengalaman pribadinya bersama sahabat-sahabatnya mendaki puncak Mahameru, yang dia tuangkan kedalam tulisan.
       Novel ini menceritakan persahabatan antara lima orang yang terjalin lebih dari tujuh tahun. Dalam persahabatan itu terdiri dari Arial, Riani, Zafran, Ian dan Genta. Arial adalah sosok paling ganteng diantara cowok-cowok lainnya, selalu berpenampilan rapi, jarang nyela, jarang bercanda, tapi kalo ketawa paling keras. Riani pakai kacamata, cantik dan cerdas, suka agak-agak serius di tongkrongan tapi kadang kocak kalo lagi serius dan membuat teman-teman yang tadinya begong menjadi ketawa. Zafran adalah seorang penyair yang selalu bimbang, Zafran adalah orang yang akan bilang apa aja yang dia mau bilang, agak saklek tapi kocak karena kalau sudah ketemu sama Riani, kayanya bisa bikin orang bingung apa yang lagi mereka obrolin. Ian adalah penggila bola, bahkan kalau sudah main Championship Manager maka hardisk komputernya bsia teriak-teriak soalnya bisa sampai tiga hari komputer lembur. Genta (The Leader) adalah fans berat Riani, Genta paling suka berfilosofih sendirian, suka ngutip kata-kata bagus, Genta adalah orang yang mementingkan oranglain daripada dirinya sediri.
    Mereka berlima membuat kesepakatan untuk tidak berkomunikasi selama 3 bulan setelah menemukan kejenuhan di antara mereka dan merasa harus keluar dari zona aman mereka dan bertemu pada tanggal 14 Agustus. Kesepakatan itu berakhir dengan mendaki Gunung Mahameru. Mereka sampai pada puncak Gunung Mahameru pada saat hari Kemerdekaan bangsa tercinta, Indonesia. Dengan keajaiban dan mimpi-mimpi akhirnya mereka dapat mencapai puncak tertinggi gunung di pulau Jawa itu. Tak sedikit perjuangan yang mereka hadapi untuk mencapai puncak tertinggi tetapi mereka telah menggantungkan mimpi-mimpi itu pada prinsip 5 centimeter. “Kamu taruh mimpi di depan kening, jangan menempel dan biarkan dia menggantung, mengambang 5 centimeter di depan kening kamu. Jadi, dia tidak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari dan percaya bahwa kamu bisa.”
Tema yang tersirat dalam novel ini adalah tentang persahabatan anak muda yang mempunyai kekuatan dan keyakinan akan suatu hal. Uniknya lagi, cerita ini dikombinasikan dengan kisah percintaan. Pada bagian alur, novel ini menggunakan alur campuran. Kemudian tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini, yaitu Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta. Latar yang ditampilakn dalam novel ini lebih banyak di Gunung Mahameru yang terletak di Jawa Timur. Dalam novel ini, sudut pandang yang digunakkan penulis adalah orang ketiga serba tahu, di mana penulis bertindak sebagai sutradara yang mengetahui segala perasaan maupun konflik batin yang dialami para tokoh. Amanat yang ingin disampaikan pengarang, yaitu terimalah apa yang menjadi kekurangan dari sahabat kita karena tidak semua orang yang mempunyai kelebihan semata. Kelebihan tersebut pasti selalu didampingi dengan kekurangan. Tinggal bagaimana kita menyikapi hal tersebut
Novel ini mempunyai banyak kelebihan, seperti ceritanya menarik, menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan terdapat kalimat yang mengundang tawa sehingga tidak menimbulkan kesan monoton untuk pembaca. Ditambah lagi dengan penggambaran setting waktu dan tempat yang sangat detail tetapi tidak berlebihan seakan membuat seolah kita ikut terlibat di dalamnya, seperti perjalanan mereka dari Jakarta (stasiun Senen) sampai ke atas puncak Mahameru. Pembaca bagaikan berada di sana, merasakan dinginnya Ranu Pane, indahnya Ranu Kumbolo, mistisnya Kalimati, dan menakjubkannya puncak Mahameru.
Novel ini juga mampu menghipnotis para pembacanya sehingga para pembaca dapat ikut merasakan tentang kekuatan serta keajaiban mimpi dan keyakinan sehingga memotivasi pembaca agar bisa mengejar impian mereka dan membuat jadi nyata. Selain itu, novel ini disajikan dengan lelucon-lelucon yang bisa membuat pembaca menjadi tertawa terbahak-bahak. Kehebatan Donny Dhirgantoro dalam mengarang cerita akan terlihat dengan novel ini.
Akan tetapi,  dari segala kelebihannya novel ini mempunyai kekurangan seperti terdapatnya lirik lagu yang tidak semua pembaca mengetahuinya sehingga menimbulkan efek untuk malas membaca pada bagian tersebut. Elain itu, novel ini disajikan dengan dialog-dialog yang ancur dan gila-gilaan khas anak muda yang membuat sebagian orang merasa dialog tersebut kurang sopan.
Kelemahan yang lain dari novel ini, yaitu akhir cerita terlalu naif. Meskipun akhir cerita berakhir dengan happy ending, tetapi masih sedikit menggantung dan terasa begitu dipaksakan dengan pembentukan keluarga antara sahabat-sahabat tersebut ditambah dengan keturunan mereka yang begitu sama mewarisi sifat-sifat orangtuanya. Hal tersebut membuat pembaca sulit membedakan mana yang menjadi anak dan mana yang menjadi bapak, mana yang pemuda dan mana pula yang anak-anak.
Dengan mengesampingkan kekurangan tersebut, novel “5 cm” benar-benar novel yang cocok bagi pelajar zaman sekarang, karena novel ini mengajarkan kita tentang persahabatan yang erat dan kekuatan kerja keras. Novel ini mengingatkan kita tidak perlu bukti dan hitungan, serta rumus-rumus yang rumit untuk membuktikan kekuatan dan keajaiban mimpi dan keyakinan. Selain itu, buku ini juga mengajarkan tentang bagaimana cara mewujudkan mimpi yang kita punya.

Sumber :

RESENSI : Pengertian, Sistematika, Kebahasaan


Resensi

A.  Pengertian Resensi
Resensi berasal dari bahasa Belanda resentie dan bahasa Latin recensio, recensere atau juga revidere yang artinya mengulas kembali, menimbang, atau menilai. Resensi adalah kegiatan menilai kelebihan dan kekurangan suatu karya. Resensi juga dapat diartikan  kegiatan menilai, membahas, mengkritik atau mengungkapkan kembali isi yang ada didalam sebuha karya dengan cara memaparkan data-data, sinopsis, dan kritikan terhadap karya. Karya adalah hasil buatan atau ciptaan dari seseorang. Karya yang dapat diresensi, seperti buku, film, drama, lukisan, atau patung.
Tujuan umum resensi adalah untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dan memberikan gambaran kepada pembaca mengenai suatu karya apakah layak dibaca/ dinikmati atau tidak. Hal-hal yang menjadi sasaran penilaian yaitu, isi, tampilan, unsur-unsur, bahasa, manfaat dan lain-lain.

B.  Karakteristik/ Ciri-ciri Resensi
1.  Berisi penilaian/ ulasan suatu karya berdasarkan sudut padang penulis resensi.
2.  Terdapat kelebihan dan kekurangan suatu karya.
3.   Menggunakan bahasa baku/ resmi (Bahasa Indonesia).
4.   Bersifat kritis, faktual, dan objektif.

C.   Jenis-jenis Resensi
Secara garis besar resensi dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1.  Resensi Informatif, yaitu resensi yang hanya menyampaikan isi dari resensi secara singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.
2.    Resensi Deskriptif, yaitu resensi yang membahas secara detail pada tiap bagian atau babnya.

3. Resensi Kritis, yaitu resensi yang berbentuk ulasan detail dengan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. 
Isi dari resensi biasanya kritis dan objektif dalam menilai isi buku. Namun, ketiga jenis resensi di atas tidak baku karena bisa saja dalam sebuah resensi ketiganya diterapkan secara bersamaan.
D.  Manfaat Resensi
1.   Bahan Pertimbangan (Bagi pembaca resensi)
Memberikan gambaran kepada para pembaca tentang suatu karya dan mempengaruhi mereka atas karya tersebut.
2.    Sarana Promosi Buku (Bagi penulis buku)
     Buku yang diresensikan adalah buku baru yang belum pernah diresensi. Dengan demikian, resensi merupakan media untuk mempromosikan buku baru tersebut.
3.  Nilai Ekonomis (Bagi penulis resensi)
 Mendapatkan uang atau imbalan serta buku-buku yang diresensikan secara gratis dari penerbit buku apabila resensinya dimuat di koran atau majalah.
4.    Pengembangan Kreativitas (Bagi penulis resensi)
Semakin sering menulis, maka semakin terasah kebiasaan menulis untuk setiap individu.

E.  Struktur/ Sistematika Resensi
Dalam membuat resensi, terdapat sistematika yang harus dipenuhi agar resensi yang dibuat menjadi jelas dan berkualitas. Berikut ini adalah beberapa sistematika resensi buku yang harus ada dalam pembuatannya.
No.
Buku Fiksi
Buku Nonfiksi
1.
Judul resensi
Judul resensi
2.
Identitas buku
Identitas buku
3.
Kepengarangan
Kepengarangan
4.
Sinopsis
Ikhtisar
5.
Unsur intrinsik
-
6.
Kelebihan
Kelebihan
7.
Kekurangan
Kekurangan
8.
Kesimpulan
Kesimpulan

Keterangan :
1.    Judul Resensi
Judul resensi harus memiliki keselarasan dengan isi resensi yang dibuat. Judul yang menarik juga akan memberi nilai lebih pada sebuah resensi.
2.    Identitas Data Buku
a.    Judul buku;
b.    Pengarang;
c.    Penerbit;
d.   Tahun terbit beserta cetakannya;
e.    Dimensi buku;
f.     Harga buku;
3.    Kepengarangan
Biografi singkat dari penulis buku.
4.    Sinopsis/ Ikhtisar Buku
Ringkasan dari isi buku yang diresensi
5.    Unsur Intriksik
Penjelasan tentang unsur intrinsik seperti tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, sudut pandang, amanat.
6.    Kelebihan
Penilaian kelebihan hal-hal yang ada dalam karya seperti, isi, tampilan, bahasa, unsur-unsur, manfaat, dan lain-lain.
7.    Kekurangan
Penilaian kekurangan hal-hal yang ada dalam karya seperti, isi, tampilan, bahasa, unsur-unsur, manfaat, dan lain-lain.
8.    Kesimpulan
Penutup biasanya berisi alasan/ saran mengapa buku tersebut layak untuk dibaca atau tidak.

F.   Kebahasaan Teks Resensi
Dalam membuat resensi, terdapat kebahasaan yang harus dipenuhi agar resensi yang dibuat menjadi jelas dan berkualitas. Berikut ini adalah beberapa kebahasan resensi buku yang harus ada dalam pembuatannya
1.      Konjungsi penerang, contoh : yakni, bahwa, yaitu.
2.      Konjungsi temporal, contoh : kemudian, lalu, ketika, sesudah, sebelum, selanjutnya, berikutnya, setelah itu.
3.      Konjungsi kausal, contoh : sebab, karena, akibat, sehingga
4.      Preposisi, contoh : di, ke, dari, pada, kepada, sejak, sambil
5.      Kata persuasif/ saran, contoh : seharusnya, hendaknya, sebaiknya,
6.      Kata serapan, contoh : tim, supermarket, foto, kopi, dan lain lain

G. Langkah-langkah Menulis Resensi
Berikut adalah langkah-langkah dalam meresensi sebuah buku :
1.      Menentukan jenis buku yang akan diresensi, diupayakan buku terbaru.
2.      Membaca buku secara keseluruhan dan memahami isi buku secara.
3.      Menandai atau membuat catatan singkat mengenai bagian-bagian penting dalam buku tersebut untuk dijadikan data.
4.      Membuat judul resensi yang menarik perhatian pembaca.
5.      Menuliskan identitas buku secara lengkap; judul, pengarang, penerbit, tahun terbit, cetakan dan tebal halaman buku.
6.      Menuliskan ulasan singkat mengenai keunggulan buku dan kelemahan buku.
7.      Menuliskan penutup yang berisi alasan mengapa buku ini penting dibaca.


Sumber :
Kemendikbud.2017. Bahasa Indonesia Kelas XI SMA/MA/SMK/MAK.. Edisi Revisi Jakarta: Kemendikbud.



  CONTOH TEKS RAGAM BAHASA   1.       Teks 1 Pada kesempatan yang baik ini marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan atas rahmat...