Selasa, 23 Maret 2021

Resensi Novel Layar Terkembang “Wanita Perlu Berjuang”

 

Resensi Novel Layar Terkembang “Wanita Perlu Berjuang”



Judul buku       : Layar Terkembang

Pengarang       : Sutan Takdir Alisjahbana

Desain buku    : Tim Desain Puri Margasar

Penerbit          : Balai Pustaka

Kota Terbit      : Jakarta

Tahun Terbit   : Cetakan Pertama - 1936

  Cetakan ketiga puluh Sembilan - 2009

ISBN                 : 979-407-065-3

Halaman         : 200 Halaman

Sutan Takdir Alisjahbana (STA), (lahir di Natal, Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86 tahun), merupakan tokoh pembaharu, sastrawan, dan ahli tata Bahasa Indonesia. Setelah menamatkan sekolah HIS di Bengkulu (1915-1921), STA melanjutkan pendidikannya ke Kweekschool, Bukittinggi yang kemudian meneruskan ke Hogere Kweekschool di Bandung (1921-1925), menjalani pendidikan dan menerima pendidikan di Fakultas Sastra di Rechtschogeschool di Jakarta (1937-1942), dan memperoleh gelar Dr. Honoris Causa untuk Ilmu Bahasa dari Universitas Indonesia (1979) dan untuk Ilmu Sastra dari Universitas Sains Malaysia, Penang, Malaysia (1987).

Kisah bermulai dari sosok kakak beradik yang berpengarai berbeda, Tuti dan Maria. Tuti seorang kakak yang selalu serius dan aktif dalam berbagai kegiatan wanita. Ia bahkan aktif dalam memberikan orasiorasi tentang persamaan hak kaum wanita. Pada saat itu, semangat kaum wanita sedang bergelora sehingga mereka mulai menuntut persamaan dengan kaum pria. Sedangkan Maria adalah adik yang lincah dan periang sehingga semua orang yang berada di dekatnya pasti akan menyenangi kehadirannya. Di tengah-tengah dua dara jelita ini, muncullah Yusuf, seorang mahasiswa kedokteran, yang pada masa itu lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Tabib Tinggi. Sejak pertemuannya yang pertama di gedung akuarium Pasar Ikan, antara Maria dan Yusuf timbul kontak batin sehingga mereka menjadi sepasang kekasih.

Sementara itu, Tuti yang melihat hubungan cinta kasih adiknya sebenarnya berkeinginan pula untuk memiliki seorang kekasih. Apalagi setelah ia menerima surat cinta dari Supomo, seorang pemuda terpelajar yang baik hati dan berbudi luhur.. Namun, karena pemuda itu bukanlah idamannya, ia menolak cintanya. Sejak itu hari-harinya semakin disibukkan dengan kegiatan organisasi dan melakukan kegemarannya membaca buku sehingga ia sedikit melupakan angan-angannya tentang seorang kekasih.

Setelah melalui tahap-tahap perkenalan, pertemuan dengan keluarga, dan kunjungan oleh Yusuf, diadakanlah ikatan pertunangan antara Maria dan Yusuf. Tetapi sayang, ketika menjelang hari pernikahan, Maria jatuh sakit. Penyakitnya parah, malaria dan TBC, sehingga harus dirawat di Sanatorium Pacet. Tidak lama kemudian, Maria menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sebelum ajal datang, Maria berpesan agar Tuti, kakaknya bersedia menerima Yusuf. Tuti tidak menolak dan dimulailah pertunangan antara Tuti  dan Yusuf. Akhirnya tak lama kemudian keduanya menikah dan hidup selamanya.

Tema dalam novel ini ada tentang Perjuangan wanita. Latar atau setting yang digambarkan pengarang adalah di masa di mana budaya ketimuran dan budaya belanda masih kental sekali, seperti berada di gedung akuarium di pasar ikan, rumah wiriatmaja, martapura, kalimantan selatan, rumah sakit pacet, rumah partadiharja, gedung permufakatan. Alur Yang Digunakan Pengarang Berupa Alur Maju, Sedangkan Sudut Pandangnya Berupa Orang Ketiga.

Selanjutnya untuk tokoh adalah Tuti seorang yang berwibawa, pandai, berpendirian teguh, tegas, teliti, berpikir rasional. Sedangkan adik Tuti, Maria berwatak mudah kagum, ekspresif, tegar, berpendirian, ulet, ramah. Seorang pemuda tampan bernama Yusuf merupakan seorang yang ramah, baik, pandai, peduli, berjiwa nasionalis.Ayah Tuti dan Maria Raden Wiriatmaja, berwatak baik, pengertian, bijaksana. Paman Tuti dan Maria bernama Parta Diharja. Ia mempunyai watak ramah, bijaksana. Sedangkan Supomo berwatak baik hati, berbudi luhur. Secara tersirat maupun tersurat amanat yang disampaikan dalam novel ini adalah untuk menyelesaikan suatu masalah harus diselesaikan dengan musyawarah dan jangan memaksakan kehendak.

Kelebihan dari buku ini adalah secara keseluruhan isi cerita ini sangatlah bagus. Alur yang ditulis mulai dari pengenalan, klimaks, antiklimaks, hingga penyelesaian yang sangat dramatis. Novel ini bisa membawa para pembaca seolah-olah menjadi pembaca dalam sebuah drama percintaan yang mengharukan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa setiap insan pasti akan mempunyai pasangan hidup jika Sang Penguasa telah menakdirkannya yang mana ia akan menjadi pendamping hidup kita dikala kita suka maupun duka.

Selanjutnya dari segi bahasanya, bahasa yang digunakan dalam mengungkapkan isi adalah bahasa Melayu. Latar cerita dalam novel ini sangat menarik di masa dimana budaya ketimuran dan budaya belanda masih kental sekali yang digambarkan secara detail, Secara tersirat maupun tersurat amanat yang disampaikan dalam novel ini sangat bagus yaitu mengajarkan kita untuk menyelesaikan suatu masalah harus dengan musyawarah dan jangan memaksakan kehendak.

Berikutnya dari segi etika, novel ini banyak berisi nilai etika atau moral yang sangat mendidik bagi para kaula muda pada saat sekarang ini. Selain itu juga memiliki nilai-nilai sosial dalam kehidupan serta prinsip hidup yang mesti berpikir matang sebelum bertindak dan tidak mudah terbawa arus oleh situasi di sekitar kita. Novel ini juga disertai gambar yang menarik yang membuat kita tidak bosan untuk membacanya.

Kekurangan dari buku ini menurut saya hanya terletak pada cover dan pemilihan kata-kata yang ada di dalam naskah ini. Covernya tidak begitu menarik, warnanya yang tidak bervariasi dan bahasanya sangat tinggi dan cukup memusingkan pembaca. Selain itu, Buku ini juga tidak disertai dengan daftar isi sehingga menyulitkan kita untuk mencari sesuatu yang ingin kita cari. Tatanan bahasa yang dipakai adalah Melayu sehingga kurang bisa dipahami para pembaca. Tatanan kalimatnya tidak efektif sehingga muncul berbagai kalimat ambigu yang menimbulkan salah pengertian pembacanya. Pemakaian bahasa yang tidak komunikatif dalam dialog antar tokoh, kurang menggugah para pembaca untuk melanjutkan ceritanya hingga akhir.

Harapan dari buku ini agar kata-katanya bisa direvisi ulang menurut tatanan bahasa yang sesuai dengan EYD terbaru saat ini. Sehingga menarik minat para pembaca khususnya para remaja dengan isi novel Layar Terkembang. Selain itu secara tidak langsung dapat meningkatkan minat para generasi muda terhadap kesusastraan lama Indonesia yang menjadi perintis sastra modern Indonesia sekarang. Setelah membaca buku saya mendapatkan banyak pengetahuan baru. Buku ini memberikan banyak inspirasi dan membuka mata kita, khususnya saya sendiri tentang kegigihan dalam berjuang yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan.

 

Sumber :

https://www.bindoline.com/resensi-novel-fiksi-3/

http://ribkacarebella.blogspot.com/2014/02/resensi-novel-layar-terkembang.html

http://perpustakaansmpn1mendoyo.weebly.com

Sabtu, 09 Mei 2020

MATERI PUISI


MATERI PUISI


A.    PENGERTIAN PUISI
Puisi adalah karya sastra berisi ungkapan perasaan penyair yang mengandung banyak makna yang terikat diksi, rima, irama, larik, dan bait. Puisi mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dalam mengonsentrasikan kekuatan bahasa dengan struktur fisik dan struktur batinnya. Puisi mengutamakan bunyi, bentuk dan makna yang mendalam dengan memadatkan segala unsur bahasa.

B.    UNSUR PUISI
Puisi mempunyai dua unsur, yaitu unsur batin dan fisik.
Unsur Batin
Unsur Fisik
1. Tema
1. Diksi
2. Suasana/ Rasa
2. Imaji
3. Nada
3. Majas
4, Amanat/ Makna
4. Kata Kongkret/ Lambang

5. Rima/ Irama

6. Tipografi

Keterangan:
1.   Tema (sense) yaitu makna/ isi yang tersirat yang ingin disampikan penulis kepada pembaca/ pendengar. Maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan.
2.   Suasana/ Rasa (feeling) yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan.
3.   Nada (tone) yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dan lain-lain.
4.   Amanat (Intention) yaitu pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca
5.   Diksi adalah pemilihat kata yang digunakan oleh sang penyair di dalam puisinya. Pemilihan kata dilakukan dengan mempertimbangkan kesesuaian makna, irama, nada, dan estetika (keindahan bahasa).
6.   Imaji/ citraan yaitu kata-kata yang memiliki makna penggunaan indra manusia, seperti imaji penglihatan, pendengaran, perabaan/ perasaan, penciuman dan pergerakan. Penggunaan imaji bertujuan agar pembaca maupun pendengar dapat berimajinasi atau membayangkan bahkan merasakan apa yang dirasakan oleh penyair.
7.   Majas yaitu bahasa figuratif seolah olah menghidupkan  dan menimbulkan makna konotasi/ kiasan. Majas dalam puisi seperti majas asosiasi, metafora, simile, paradoks dan personifikasi, paralelisme, dan lain-lain.
8.   Kata konkret/ lambang adalah kata yang dapat ditangkap dengan indra yang memungkinkan munculnya makna kiasan. Misalnya kata konkret “salju” melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup. Kata “rawa-rawa” dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan.
9.   Irama/ Rima yaitu persamaan bunyi di awal, tengah maupun akhir larik dalam bait puisi.
10.  Tipografi yaitu bentuk puisi yang dipenuhi dengan kata di tepi kiri, tengah atau kanan, dan tidak memiliki pengaturan jumlah baris atau bait.

C.    JENIS-JENIS PUISI 
Puisi dibagi menjadi dua jenis, yaitu puisi lama dan puisi baru.
1)      Puisi Lama
Puisi lama memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut.
a.    Nama pengarang puisi biasanya tidak diketahui.
b.   Terikat berbagai peraturan seperti rima, irama, baris dan bait.
c.    Disebut sastra lisan karena penyampaiannya dari mulut ke mulut.
d.   Berisi tentang kerajaan dan fantastis.
e.  Majas yang digunakan tetap dan klise

Selain itu, puisi lama terdapat beberapa jenis-jenis di antaranya sebagai berikut.
a.    Pantun merupakan puisi lama yang bersajak a-b-a-b. Dalam setiap baitnya terdiri dari 4 baris. Tiap barisnya terdiri dari 8-12 suku kata. Baris 1-2 berisi sampiran. Sedangkan baris 3-4 berisi isi.
b.   Syair merupakan karya sastra lama yang berasal dari arab. Tiap baitnya berisi 4 baris. Sajaknya adalah a-a-a-a. Syair biasanya berisi tentang nasihat atau cerita.
c.    Mantra merupakan suatu ucapan-ucapan yang dinilai memiliki kekuatan gaib.
d.   Talibun merupakan pantun genap yang di setiap baitnya terdiri dari 6,8 atau 10 baris.
e. Seloka merupakan puisi Melayu klasik yang berisi perumpamaan ataupun pepatah yang mengandung sindiran, ejekan dan senda gurau. Biasanya seloka biasanya ditulis dalam 4 baris. Namun, ada juga yang menulis lebih dari 4 baris.
f. Gurindam adalah puisi lama yang tiap baitnya berisi 2 baris. Biasanya, bersajak a-a-a-a. Gurindam kebanyakan berisi tentang nasihat.
g.   Karmina merupakan puisi lama yang berbentuk pantun kilat karena isinya sangat pendek.

2) Puisi Baru
Puisi baru memiliki beberapa ciri-ciri sebagai berikut.
a. Nama pengarang puisi banyak diketahui.
b. Tidak terikat peraturan seperti rima, irama, baris dan bait.
c. Penyampaiannya melalui lisan serta tulisan.
d. Berisi tentang kehidupan-kehidupan.
e. Majas berubah-ubah atau dinamis.
f. Berbentuk rapi dan simetris.
g. Persajakan akhir biasanya teratur.

Selain itu, puisi baru terdapat beberapa jenis-jenis di antaranya sebagai berikut.
a. Balada merupakan puisi baru yang berisi tentang kisah atau cerita. Terdiri dari 3 bait yang      setiap bait berisi 8 baris dengan rima a-b-a-b-b-c-c-b. Lalu rima tersebut kemudian akan berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refrain dalam bait-bait berikutnya.
b. Himne adalah puisi baru yang berisi tentang pemujaan terhadap Tuhan, tanah air dan pahlawan-pahlawan dan dianggap penting dan sakral. 
c. Romansa ialah puisi yang berisi luapan perasaan sang penyair tentang cinta kasih. Puisi ini umumnya menimbulkan efek romantisme.
d. Ode adalah puisi baru yang berisi tentang sanjungan untuk seseorang yang berjasa. Gaya dan nada dari puisi jenis ini sangat resmi. Biasanya membahas sesuatu yang mulia, bernada anggun dan bersifat menyanjung terhadap pribadi atau peristiwa tertentu.
e. Epigram. Epigram adalah puisi baru yang berisi tentang ajaran hidup dan tuntunan-tuntunan. Puisi ini juga berarti unsur pengajaran, ikhtibar, nasihat yang membawa ke jalan kebenaran dan ada unsur teladannya.
f. Satire merupakan puisi baru yang berisi kritik dan sindiran-sindiran yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu.
g. Alegi sendiri adalah puisi yang berisi kesedihan dan berupa tangisan ataupun ratapan. Puisi ini biasanya mengungkapkan suatu rasa duka dan keluh kesah karena kematian atau kepergian dari seseorang.


D.    PROSEDUR MEMBUAT PUISI
1.   Tentukan Tema atau Judul
Dalam menentukan tema, pilihlah tema yang menarik dan sesuai dengan topik yang diinginkan atau berkembang di masyarakat. Jika sudah menentukan tema, kemudian tentukan judulnya. Kunci memilih judul adalah jangan keluar dari tema yang Anda pilih. Judul jangan terlalu panjang, namun mewakili puisi yang akan Anda sampaikan.
2.   Menentukan Kata Kunci
Setelah sudah menentukan tema dan judul, langkah selanjutnya adalah menentukan kata kunci akan dikembangkan menjadi kalimat. Misalnya satu kata kunci yang digunakan untuk satu larik, atau satu kata kunci untuk membuat satu bait.
3.   Menggunakan Majas (Gaya Bahasa)
Gaya bahasa akan memperindah puisi itu sendiri. Anda bisa menggunakan berbagai macam majas agar pembaca, atau pendengar tidak bosan membacanya. Namun, harus digarisbawahi jika penempatan diksi, atau gaya bahasa yang tidak tepat akan mengurangi bahkan menghilangkan makna dari isi yang terkandung di dalamnya.
4.   Kembangkan Puisi Semenarik Mungkin
Selanjutnya mengembangkan kata kunci menjadi kalimat-kalimat indah yang mewakili perasaan Anda. Pilihlah kata yang padat dan sarat makna di dalamnya. Tiga hal yang berkaitan dengan kata dan larik dalam puisi, yaitu: Kata adalah satuan rangkaian bunyi yang ritmis, indah dan merdu. Makna kata yang mengandung banyak tafsir. Mengandung imajinasi mendalam tentang hal yang dibicarakan.

E.    UNSUR MEMBACA PUISI
1.   Ekspresi, mimik muka dan penjiwaan puisi.
2.   Artikulasi atau kejelasan dan ketepatan pelafalan kata.
3.   Irama panjang pendek, tinggi rendah, keras lembutnya suara.
4.   Intonasi atau penekanan tinggi rendah kata.
5.   Kinesik atau gerakan tubuh yang sesuai dengan puisi yang dibawakan.


Senin, 20 April 2020

MATERI DRAMA


MATERI DRAMA




A. Pengertian Drama
Drama adalah karya sastra berbentuk dialog yang menceritakan kehidupan dan sifat manusia yang dipentaskan. Drama biasanya dipentaskan oleh para tokohnya di atas panggung. Drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton. Drama memerlukan kualitas komunikasi, situasi dan aksi. Kualitas tersebut dapat dilihat dari bagaimana sebuah konflik atau masalah dapat disajikan secara utuh dan dalam pada sebuah pementasan drama

 B. Karakteristi Umum Drama
1.    Cerita drama mencerikan kehidupan dan sifat manusia.
2.    Cerita drama berbentuk dialog (wawancang).
3.    Penulisan dialog pada drama tidak menggunakan tanda petik.
4.   Naskah drama dilengkapi dengan petunjuk tertentu yang harus dilakukan oleh tokoh pemerannya (kramagung).
5.    Naskah drama harus dipentaskan.

C.    Jenis-jenis Drama

Berikut beberapa jenis drama berdasarkan penyajian kisah drama, yaitu :
1.    Tragedi, yaitu drama yang memiliki alur cerita kesedihan.
2.    Komedi, yaitu drama yang memiliki alur cerita tentang kelucuan para tokoh.
3.    Tragekomedi, yaitu drama yang dipadukan antara drama tragedi dan komedi.
4.    Opera, yaitu drama yang dilakukan dengan cara dinyanyikan sembari diiringi dengan musik.
5.    Melodrama, yaitu drama yang dilakukan ketika berdialog sembari diiringi musik.
6.  Farce, yaitu drama yang berupa dagelan, tetapi tidak keseluruhan adegan dalam farce sama dengan dagelan.
7. Tablo, yaitu drama yang menampilkan kisa dengan sikap dan posisi pemain, dibantu oleh pencerita. Pemain-pemain tablo tidak berdialog.
8.    Sendratari, yaitu perpaduan antara drama dengan seni tari.
9.    Pantomim, yaitu drama yang dipentaskan hanya dengan gerakan saja tanpa adanya dialog.
10.  Minikata, yaitu drama yang dipentaskan dengan sedikit kata.


D.    Istilah-istilah dalam Drama
1.    Sutradara  adalah  orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama, pembuatan film
2.      Produser adalah staf produksi yang pertama kali dalam struktur perencanaan pementasan teater.
3.      Babak merupakan bagian dari lakon drama. Satu lakon drama mungkin saja terdiri dari satu, dua, atau tiga babak.
4.  Adegan adalah bagian dari babak. Sebuah adegan hanya menggambarkan satu suasana yang merupakan bagian dari rangkaian suasana-suasana dalam babak.
5.      Prolog adalah kata pendahuluan dalam lakon drama berisi sinopsis lakon, perkenalan tokoh-tokoh dan pemerannya, serta konflik-konflik yang akan terjadi di panggung.
6.    Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri pementasan.berupa kesimpulan atau ajaran yang bisa diambil.
7.     Dialog adalah percakapan antar para pemain.
8.     Monolog adalah percakapan seorang pemain dengan dirinya sendiri.
9.  Mimik adalah ekspresi gerak-gerik wajah (air muka) untuk menunjukkan emosi yang dialami pemain
10.  Gestur adalah gerak-gerak besar, yaitu gerakan tangan, kaki, kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain
11. Bloking adalah aturan berpindah tempat dari tempat yang satu ke tempat yang lain agar penampilan pemain tidak menjemukan.
12.  Gait berbeda dengan bloking karena gait diartikan tanda-tanda khusus pada cara berjalan dan cara bergerak pemain.
13.  Akting adalah gerakan-gerakan yang dilakukan pemain sebagai wujud penghayatan peran yang dimainkannya.
14.  Aktor adalah orang yang melakukan akting, yaitu pemain drama.
15.  Improvisasi adalah gerakan-gerakan atau ucapan-ucapan penyeimbang untuk lebih menghidupkan pemeranan.
16.   Ilustrasi adalah iringan bunyi-bunyian untuk memperkuat suasana yang sedang digambarkan.
17.  Kontemporer adalah lakon atau naskah serba bebas yang tidak terikat aturan atau kelaziman.
18.  Kostum adalah pakaian para pemain yang dikenakannya pada saat memerankan tokoh cerita di panggung.
19.  Skenario adalah susunan garis-garis besar lakon drama yang akan diperagakan para pemain.
20.  Panggung adalah tempat para aktor memainkan drama.
21. Layar adalah kain penutup panggung bagian depan yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kebutuhan.
22.  Skeneri adalah dekorasi yang mendukung dan menguatkan suasana permainan.
23. Backdrop adalah layar paling belakang. Kain yang dapat digulung atau dinaik-turunkan dan membentuk latar belakang panggung

E.    Struktur Drama
Adapun struktur drama terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.
1.  Prolog, bagian pendahuluan sebagai pengantar untuk menggambarkan umum tentang pelaku, konflik atau hal yang terjadi dalam drama.
2.      Dialog, bagian percakapan antara dua orang atau lebih yang menggambar isi cerita drama. Drama harus ada penjiwaan emosi dan juga dialog disampaikan dengan pengucapan kata serta volume suara yang jelas. Dalam dialog terdapat tiga bagian lagi.
      a.   Orientasi, bagian memperkenalkan para tokoh, menyatakan situasi cerita, mengajukan konflik yang akan dikembangkan dalam bagian utama cerita.
    b. Komplikasi, bagian pelaku uama menemukan rintangan-rintangan antara dia dan tujuannya, mengalami aneka kesalahpahaman dalam perjuangan untuk menanggulangi rintang-rintangan tersebut.
   c.  Resolusi, bagian titik batas yang memisahkan antara komplikasi dan resolusi, biasanya disebut klimaks (turning point). Pada klimaks terjadi perubahan penting mengenai nasib pelaku utama

3.      Epilog, bagian penutup yang mengakiri suatu pementasan drama. 


F.    Kebahasaan Drama
1.      Kata ganti orang pertama atau orang ketiga.
2.      Menggunakan kata sifat/ adjektiva.
3.      Menggunakan kata kerja/ verba (material, tingkah laku/ mental).
4.      Terdapat dialog/ percakapan (kalimat langsung).
5.      Terdapat ungkapan, peribahasa dan majas( gaya bahasa).

G.    Unsur Intrinsik Drama

1)      Tema adalah gagasan yang menjalin struktur isi cerita. Tema jarang dituliskan secara tersurat oleh pengarangnya. Untuk dapat merumuskan tema cerita fiksi, seorang pembaca harus mengenali unsur-unsur intrinsik yang dipakai oleh pengarang untuk mengembangkan cerita fiksinya. 

2)  Tokoh merupakan pelaku pada sebuah cerita. Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa dalam cerita.  Jenis tokoh ada 3, yaitu utama, sampingan, dan figuran.

3) Penokohan (perwatakan) adalah cara pengarang dalam menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Metode yang digunakan untuk menetukan karakter suatu tokoh  ada 2 macam yaitu sebagai berikut.       

a.       Metode analitik adalah metode yang digunakan untuk menetukan karakter tokoh dengan cara memaparkan ataupun menyebutkan sifat tokoh secara langsung, seperti baik hati, jahat, kejam, sabar, rajin, pemalas dan lain-lain.      

b.         Metode dramatik adalah suatu metode yang digunakan untuk menetukan karakter tokoh dengan cara tidak langsung menggambarkan sifat tokoh. Penggambaran tokoh dilakukan melalui, bentuk fisik tokoh, dialog antartokoh, pandangan tokoh lain, tindakan tokoh.

4)      Alur (Plot) adalah cerita yang berisi urutan kejadian, tiap kejadian dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa satu disebabkan oleh peristiwa lain atau peristiwa satu menyebabkan peristiwa lain. Dalam membuat alur atau plot penulis harus memperhatikan karakter tokoh yang akan di ceritakan. Biasanya semakin baik karakter tokoh maka semakin besar konflik yang akan timbul. Jenis laur ada 3, yaitu alur maju (progresif), mundur (regresif), dan campuran.

5)      Setting atau latar adalah latar atau tempat kejadian, waktu kejadian sebuah cerita. Setting bisa menunjukkan tempat, waktu, suasana batin, saat cerita itu terjadi.

6)      Sudut Pandang /Point of view adalah posisi pengarang dalam membawakan cerita. Posisi pengarag terdiri atas dua macam, yaitu berperan langsung sebagai orang pertama yang berperan sebagai tokoh utama atau tokoh sampingan. Sudut pandang orang ketiga yang berperan sebagai serba tahu atau pengamat.

7)      Gaya bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda yaitu sebagai alat penyampaian maksud pengarang dan sebagai penyampaai perasaan. Artinya, melalui karya sastra seorang pengarang bukan hanya sekedar bermaksud memberitahukan kepada pembaca mengenai apa yang dilakukan dan dialami tokoh dalam ceritanya, melainkan bermaksud pula untuk mengajak pembacanya untuk ikut merasakan apa yang dilakukan oleh tokoh cerita.

8)      Amanat dan pesan merupakan ajaran moral atau pesan didaktis yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca melalui karyanya. Pesan bisa berupa harapan, nasehat, dan sebagainya. Pesan merupakan hal penting dalam sebuah cerpen, karena dengan pesan yang baik pengarang dapat menyajikan cerita yang baik sehingga tokoh-tokoh dalam ceritanyapun dapat diteladani.

H.    Unsur Ekstrinsik Drama

1)      Latar belakang cerita/ masyarakat merupakan unsur yang mempengaruhi cerpen berupa faktor-faktor di dalam lingkungan masyarakat di mana penulis berada sehingga berpengaruh terhadap penulis itu sendiri. (agama, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain-lain)

2)      Latar belakang penulis adalah faktor-faktor yang terdapat dari dalam diri pengarang itu sendiri yang memotivasi atau mempengaruhi penulis dalam menulis sebuah cerpen. (agama, ekonomi, sosial, budaya, politik, dan lain-lain)

3)      Nilai-nilai

a.    Nilai moral/ etika, yaitu nilai yang berkaitan dengan akhlak/budi pekerti/susila atau baik buruk tingkah laku.

b.    Nilai sosial/ kemasyarakatan, yaitu nilai yang berkaitan hubungan sosial yang berada di dalam masyarakat.

c.    Nilai budaya, yaitu nilai yang berkaitan dengan adat istiadat/ kebiasaan khas.

d.    Nilai religius/ keagamaan, yaitu nilai yang berkaitan dengan tuntutan beragama.

e.    Nilai pendidikan/edukasi, yaitu nilai yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku dari baik ke buruk(pengajaran).

f.     Nilai estetis/keindahan, yaitu nilai yang berkaitan dengan hal-hal yang menarik/ menyenangkan (gaya bahasa/ idiom/ peribahasa/ majas).

g.    Nilai politis, yaitu nilai yang berkaitan dengan pemerintahan.





Sunber :


  CONTOH TEKS RAGAM BAHASA   1.       Teks 1 Pada kesempatan yang baik ini marilah kita panjatkan puji syukur kepada Tuhan atas rahmat...